Jika engkau menginginkan kebaikan, segeralah laksanakan sebelum engkau mampu. Tetapi jika engkau menginginkan kejelekan, segeralah hardik jiwamu karena telah menginginkannya. – Socrates kadang kebaikan perlu di uji kebenarannya sebab banyak yang baik belum tentu menjad benar pula. Kebaikan bisa diketahui kebanarannya setelah dilakukan uji coba paktual atau penalaran logis. Uji faktual membutuhkan fakta empirik untuk memastikan sesuatu yang dianggap mujarab bagi masyarakat maka harus dites. sementara uji penalaran dilakukan dengan melahirkan banyak pertanyaan layaknya para filosof yang selalu menanyakan setiap ungkapan yang dianggap sudah benar dan baik. Dia seperti halnya Socrates sosok filosof ini bertanya dalam bentuk dialektika atau dalam pengertian sederhananya dialog, kata dialog cocok bagi penganut pemikiran simpel dan umum agar mudah dimengerti namun jika di runut prosesnya maka dialektika bermakna sebuah diskurusus mendalam atas sebuah persoalan apakah bisa dikategorikan benar dan terukur.Jika kebaikan diuji tidak benar maka mana bisa dikatakan kebaikan, obat yang sejak awal diproduksi untuk menyembuhkan sakit namun ada saatnya menjadi tidak benar sebagai penyembuh sebab digunakan melebihi dosis. Sementara kebaikan harus di uji secara faktual, naratif, logis tidaknya dengan model ferivikasi analitik. Proses verifikasi analitik tersebut tentu dengan asumsi logis, baik berangkat dari pandangan definisi, argumentasi, debat, retorika maupun uji kevalitan menurut aturan sastra.
Proses uji secara nalar ini dilakuakn setelah selesai uji fakta atau sebaliknya uji fakta baru uji nalar. Kedunya satu kesatuan tak terpisahkan. Kebenaran bisa benar dalam logika, tapi bisa salah dalam fakta itulah sebabnya banyak teori tak berdasar sebab bertentangan dengan fakta. Saya jadi percaya jika banyak orang lapangan kecewa dengan banyaknya teori bahkan membantah bahwa para ilmuwan sebenarnya orang yang paling tidak paham kondisi lapangan, ilmunya dia peroleh dari hasil renungan sementara fakta itulah dasar logika.